Pada waktu Julian Resuello, walikota San Carlos, sebuah kota kecil di bagian utara Filipina, terbunuh oleh tembakan yang terjadi pada saat berkampanye pada tanggal 28 April, adiknya segera menggantikan posisinya. Meskipun adiknya tidak menang pemilu, namun politik kota San Carlos akan tetap berada di tangan keluarga Resuello. Kebetulan putra Julian juga akan sedang bersiap menempati jabatan di kantor pemerintah kota setempat.

Perlu diketahui bahwa Julian Resuello, pada saat tertembak sedang berkampanye untuk memenangkan posisi wakil walikota, sedangkan anaknya sedang berkampanye untuk posisi walikota. Pertukaran peran semacam ini adalah hal yang biasa terjadi di keluarga politisi di Filipina. Kini Filipina sedang menghadapi pemilu yang memperebutkan 17.000 posisi di tingkat nasional dan lokal, termasuk 265 kursi di DPR dan separuh dari 24 kursi di Senat. Lebih dari 100 orang telah terbunuh dalam kekerasan yang terjadi sebelum pemilu.

Selama beberapa generasi, dinasti politik telah lama mendominasi politik dan pemerintahan di Filipina. Seringnya, mereka adalah para politisi yang berada di kelas menengah atas dan dikenal oleh warga, seperti Presiden Arroyo, dimana ayahnya adalah seorang mantan Presiden dan anaknya adalah seorang anggota Kongres. Para ahli mengatakan bahwa dominasi politik Filipina oleh dinasti-dinasti semacam ini telah berkembang secara meluas beberapa tahun terakhir ini. Paling tidak terdapat 250 keluarga politisi di Filipina, yang setidaknya berada di tiap propinsi, mengisi posisi di tiap tingkat birokrasi. Hal ini ditegaskan oleh sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah lembaga nirlaba di Filipina yang meneliti mengenai keterkaitan keluarga dengan politik di Filipina.

“Kebanyakan keluarga yang dimaksud adalah keluarga yang termasuk dalam sebuah elit perekonomian di Filipina, beberapa di antara mereka memiliki posisi sebagai pembuat keputusan,” ujar Bobby Tuazon, direktur dari lembaga nirlaba tersebut. Para analis juga mengatakan bahwa dinasti-dinasti tersebut telah membangun sebuah rasa kepemilikan berkaitan dengan posisi publik, manakala banyak warga sipil Filipina melihatnya sebagai sesuatu keadaan yang tidak bisa dihindari, yang justru mempersulit perubahan atas situasi tersebut.

Dinasti politik di Filipina merupakan hasil dari pengalaman kolonial negara tersebut, dimana kaum elit Filipina pada saat itu dibina oleh penjajah Spanyol dan Amerika. Bahkan setelah negara tersebut memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1946, sistem feodal yang telah berkembang luas ini tetap ada. Pada waktu Ferdinand Marcos masih menjabat sebagai presiden pada tahun 1970an, beliau menyalahkan dinasti politik ini atas kesalahan-kesalahan yang terjadi di Filipina dan berjanji untuk membinasakannya. Ia memang melakukan hal itu, namun menggantinya dengan dinasti politik baru yang berada di bawah kekuasaannya. Keluarga-keluarga ini masih bertahan hingga kini. Para analis mengatakan bahwa dengan berkembangnya dominasi klan ini telah menghambat keberadaan demokrasi tulen di Filipina.

Sistem ini merupakan lingkaran setan yang menghambat ekspansi dasar aspirasi dan kandidat lain yang bisa menduduki posisi yang tersedia. Hasilnya adalah, sistem politik yang didominasi oleh patronase, korupsi, kekerasan, dan penipuan. Di samping kekerasan, penipuan pemilulah yang kerap kali terjadi selama pemilu berlangsung. Menurut sebuah organisasi di Filipina, penipuan mendaur ulang dinasti politik dan membuat mereka tetap berkuasa. “Hal ini jelas melahirkan generasi yang curang dan manipulator, politisi yang korup, para eksekutif yang memiliki kecakapan yang dibawah rata-rata, penerima suap, mempertinggi tingkat ketidakhadiran di Kongres,” ujar salah satu staf organisasi tersebut.

The Asia Foundation, sebuah lembaga yang telah secara berkala memantau pelaksanaan pemilu di Filipina sejak beberapa dekade lalu, mengatakan dalam laporannya bahwa “kebingungan, ketidak efisienan, korupsi, dan perbuatan curang telah merusak kredibilitas pemilu dan melahirkan ketidakyakinan atas legitimasi demokrasi dari para pejabat yang terpilih” di Filipina.

Selain dari perilaku korupsi yang kerap kali terjadi berkaitan dengan dinasti politik ini, dampak negatif lainnya juga sering terlihat. Contohnya, sebuah keluarga yang sedang berada dalam tampuk kekuasaan kemungkinan tidak akan mendanai proyek pemerintah yang berada dalam area yang dikuasai oleh rivalnya. Dalam kebanyakan kasus, mereka yang berkuasa akan mengabaikan pelayanan pemerintah, seperti layanan kesehatan dan hanya akan menawarkannya kembali pada saat pemilu. Perbaikan sarana jalan raya dan jembatan umum hanya akan terjadi pada saat-saat menjelang pemilu saja, dan politisi yang sedang menjabat tersebut secara terang-terangan memastikan agar para warga tahu siapa politisi yang berada di balik semua perbaikan tersebut.

Meskipun ada semacam kepercayaan bahwa dinasti politik Filipina ini tidak akan bisa dibinasakan, namun para analis melihat adanya perubahan ke arah positif. Diantara generasi baru yang berasal dari dinasti politik ini telah secara nyata melakukan perubahan positif walau secara kecil-kecilan. Ia telah membuktikan bahwa dirinya telah memimpin menggunakan cara yang bertanggung jawab.